4 Perbedaan Ayam Kampung dan Ayam Potong Yang Harus Diketahui

Perbedaan Ayam Kampung dan Ayam Potong – Dari dulu sampai sekarang budidaya ayam sangat populer di kalangan masyarakat Indonesia.

4 Perbedaan Ayam Kampung dan Ayam Potong Yang Harus Diketahui
4 Perbedaan Ayam Kampung dan Ayam Potong Yang Harus Diketahui

Hal itu disebabkan oleh daging ayam adalah salah satu sumber protein hewani yang harganya cukup terjangkau sehingga mengakibatkan tingginya permintaan akan daging ayam.

Permintaan daging ayam tidak hanya berasal dari industry saja melainkan pula individu dan rumah tangga.

Meskipun ayam yang ada Indonesia terdiri dari banyak jenis, ayam yang pada umumnya dikonsumsi dan banyak dijual di pasar hanya ayam kampung dan ayam potong (broiler). Kedua ayam tersebut memiliki banyak sekali perbedaan, mulai dari segi fisik, tekstur daging, kandungan gizi, dan harga.

Baca Juga : Ciri dan Karakteristik Ayam Cemani

Perbedaan Ayam Kampung dan Ayam Potong

Berikut akan kita bahas perbedaan mendasar antara ayam kampung dan ayam potong (broiler) :

1. Perbedaan Fisik

Dari segi fisik, perbedaan antara ayam kampung dan ayam potong terlihat dari ukuran dan bentuk tubuhnya.

Meskipun tidak memiliki tubuh yang gemuk, ayam kampung justruk mempunyai bentuk tubuh yang lebih gagah daripada ayam potong.

Ayam kampung memiliki beberapa tulang di bagian dada yang terlihat menonjol ke permukaan, yang menunjukkan ayam kampung tidak terlalu memiliki banyak lemak tidak seperti ayam potong.

Sementara ayam potong secara umum memiliki tubuh yang gemuk dan besar. Hal itu disebabkan ayam kampung yang dibudidayakan biasanya mendapatkan pakan yang banyak mengandung bermacam-macam vitamin dan nutrisi.

Di bagian dada ayam potong cenderung mengandung banyak lemak. Di peternakaan, ayam potong cenderung tidak aktif bergerak dan kurang mendapat sinar matahari dibanding ayam kampung.

Aktivitas ayam potong hanya makan dan tidur. Oleh sebab itu, lemak di tubuh ayam potong menjadi menumpuk.

2. Perbedaan Daging

Sesuai dengan ukuran badannya, ayam kampung memiliki daging yang tidak tebal, saat dipegang terasa keras, serta tulang-tulang yang panjang.

Dagingnya berwarna lebih gelap atau tidak terlalu cerah jika disbanding dengan ayam potong. Makanan, cara hidup dan usia hidup ayam mempengaruhi warna daging pada ayam kampung.

Meskipun memiliki daging yang tidak terlalu tebal, daging ayam kampung memerlukan waktu yang lama ketika dimasak.

Untuk mendapatkan tingkat kelembutan daging yang sama, ayam kampung memerlukan waktu dua kali lebih lama dibandingkan ayam potong. Akan tetapi, daging ayam kampung memiliki rasa yang jauh lebih gurih dan nikmat.

Sedangkan ayam potong biasanya memiliki kulit yang terlihat mengkilap dan licin karena mengandung banyak lemak serta lebih mudah sobek dibandingkan dengan ayam kampung.

Warna daging ayam potong lebih cerah dan cenderung berwarna putih, terasa lebih empuk saat ditekan dan lebih cepat matang ketika dimasak. Pada bagian leher dan ekor terlihat mengandung banyak lemak.

3. Perbedaan Kandungan Gizi

Selama ini, mungkin daging ayam potong masih diragukan keamanannya oleh banyak orang. Seperti diketahui, dulu memang sering dijumpai peternak yang menyuntik ayam potong dengan hormon pertumbuhan agar ayam tumbuh besar dan gemuk.

Tentu saja penyuntikan hormon pada ayam dapat memengaruhi kesehatan manusia yang mengonsumsi dagingnya.

Namun, Pemerintah Indonesia sendiri telah mengeluarkan larangan terkait praktek penyuntikan hormon untuk ayam potong. Pemerintah telah secara resmi melarangnya melalui Surat Edaran Direktur Kesehatan Hewan no. 329/XII/4-1 tahun 1983.

Jadi, kekhawatiran mengenai adanya penyuntikan hormon pertumbuhan pada ayam potong seharusnya tidak perlu ada lagi.

Dengan demikian, mengonsumsi daging ayam kampung atau negeri sebenarnya sama-sama aman. Gizi yang terkandung pada kedua jenis ayam ini pun tidak jauh berbeda.

Namun, bagi mereka yang menghindari lemak, tentu ayam kampung menjadi opsi yang jauh lebih baik karena kandungan lemak pada ayam kampung tidak sebanyak ayam potong.

Kandungan lemak yang dimiliki ayam kampung hanya gram per 100 gram daging, sedangkan ayam negeri mengandung lemak lebih dari dua kali lipatnya, yaitu 14,7 gram per 100 gram daging.

Maka, tak heran jika dikatakan daging ayam kampung lebih sehat dibandingkan ayam negeri, jika berdasarkan dari segi kandungan lemaknya.

4. Perbedaan Harga

Sudah bukan rahasia jika harga daging ayam kampung jauh lebih mahal dibandingkan ayam negeri, baik yang dijual di pasar-pasar tradisional maupun di supermarket.

Perbedaan harga ini disebabkan perbedaan waktu yang dibutuhkan untuk memelihara ayam hingga dagingnya siap dijual.

Budidaya ayam kampung memerlukan waktu lebih lama, yaitu sekitar 6 bulan. Sedangkan ayam potong dapat dibudidayakan dalam waktu jauh lebih cepat, yakni hanya 1 bulan.

Cepatnya waktu pembudidayaan ini menyebabkan banyak orang tertarik beternak ayam potong, sehingga suplainya berlimpah. Dampaknya yang ditimbulkan, harganya pun menjadi lebih murah.

Sebagian besar masyarakat di Indonesia mengandalkan daging ayam untuk mencukupi kebutuhan protein tubuh. Tidak mengherankan, baik di kota maupun di desa, daging ayam seringkali ditemukan sebagai menu makanan sehari-hari.

Walaupun demikian, ternyata tingkat konsumsi daging ayam di Indonesia masih sangat rendah, hanya 9 kg per kapita per tahun, angka yang jauh lebih kecil jika dibandingkan Malaysia.

Yang lebih disayangkan, tingkat konsumsi daging ayam di Indonesia yang rendah tersebut masih didominasi oleh ayam potong.

Sedangkan tingkat konsumsi ayam lokal atau yang lebih dikenal sebagai ayam kampung masih sangat rendah, yaitu 6% dari total produksi unggas nasional.

Baca Juga : Cara Budidaya Ayam Joper

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *